Beijing kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah Presiden Xi Jinping melakukan langkah ekstrem dengan memecat sembilan jenderal top dalam tubuh militer, termasuk He Weidong, wakil ketua Central Military Commission—posisi nomor dua paling berkuasa di jajaran militer China.
Langkah mengejutkan ini diumumkan secara resmi oleh Partai Komunis China (PKC) pada awal pekan, disertai tuduhan korupsi besar-besaran dan penyalahgunaan kekuasaan di sektor pertahanan.
Ini bukan pertama kalinya Xi mengguncang militer. Namun, kali ini berbeda—skala dan posisinya luar biasa besar. Menurut laporan Financial Times, pembersihan ini disebut sebagai operasi anti-korupsi paling masif dalam sejarah People’s Liberation Army (PLA).
Xi Jinping, yang dikenal sangat ketat terhadap loyalitas internal, tampaknya ingin memastikan bahwa hanya orang-orang yang benar-benar setia pada dirinya yang bertahan di posisi strategis.
He Weidong (kiri) dan Miao Hua (kanan), dua di antara jenderal yang dipecat. Sumber: CNN
Banyak analis menilai bahwa langkah Xi ini tidak semata-mata soal “pembersihan moral”. Di balik narasi anti-korupsi, tersimpan aroma politik kekuasaan.
Sebagian pihak percaya Xi sedang mengkonsolidasikan kekuatan menjelang pemilihan kader baru di PKC, memastikan tidak ada kelompok dalam militer yang berpotensi menantang pengaruhnya.
Namun, di sisi lain, publik China menyambut baik langkah ini sebagai tanda keseriusan pemerintah memberantas praktik korupsi yang sudah lama menjadi rahasia umum di tubuh militer.
Pemecatan sembilan jenderal senior ini menimbulkan efek domino. Banyak posisi strategis kini kosong, termasuk di unit pertahanan udara dan pasukan roket—komponen vital yang bertanggung jawab terhadap senjata nuklir China.
Para pengamat militer memperingatkan bahwa ketidakstabilan internal ini bisa mempengaruhi kesiapan pertahanan China, terutama di tengah meningkatnya ketegangan dengan Taiwan dan Amerika Serikat.
Pasukan PLA dalam latihan militer. Sumber: Wikimedia Commons
Dengan langkah ini, Xi semakin memperkokoh posisinya sebagai pemimpin paling berpengaruh di China sejak era Mao Zedong.
Ia kini memegang kendali penuh atas partai, negara, dan militer—tiga pilar utama kekuasaan di China.
Bersih-bersih ini bukan hanya soal korupsi; ini tentang pesan kuat kepada semua pejabat: tidak ada yang aman jika tidak loyal kepada Xi.
Langkah berani Xi Jinping memecat sembilan jenderal bukan sekadar manuver politik, tetapi juga sinyal bagi dunia bahwa China sedang berbenah—dengan caranya sendiri.
Apakah ini akan membawa stabilitas atau justru membuka babak baru dalam perebutan kekuasaan internal? Hanya waktu yang akan menjawab.
by : st
Tdak seimua orang dapat menikmati udara, cuaca, atau suhu dingin. Selain menggigil karena kedinginan, beberapa…
Tiket dinamis Piala Dunia 2026 mirip dengan mekanisme tiket pesawat atau hotel Tahap distribusi tiket…
Buah belimbing, atau dikenal juga dengan nama star fruit karena bentuknya menyerupai bintang ketika dipotong…
Polri Tetapkan 1 Tersangka Baru : Kasus Tambang Ilegal Batu Bara Rp 5,7 T di…
Kami berkomitmen menghadirkan hunian dan proyek properti di lokasi strategis dengan standar kualitas tinggi, dirancang…