Ketupat: Sejarah, Makna Filosofis, dan Cara Membuatnya
Tradisi Ketupat menjadi salah satu hidangan khas Indonesia yang sangat populer, terutama saat perayaan hari besar seperti Idul Fitri. Selain di Indonesia, ketupat juga terkenal di beberapa negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia dan Brunei. Namun, di Indonesia, ketupat memiliki makna mendalam dan sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Ketupat bukan sekadar makanan, tetapi juga memiliki filosofi yang dalam. Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi ketupat sebagai simbol permohonan maaf dan kesucian hati. Bentuk ketupat yang rumit mencerminkan perjalanan hidup manusia yang penuh liku-liku, sementara isinya yang berupa nasi putih melambangkan hati yang bersih setelah menjalani puasa selama bulan Ramadan.
Masyarakat Jawa menyebut ketupat sebagai “kupat,” yang berasal dari “ngaku lepat” (mengakui kesalahan) dan “laku papat” (empat tindakan utama). Mereka menjalankan empat tindakan utama ini, yaitu lebaran, luberan (berbagi rezeki), leburan (melebur dosa), dan laburan (menyucikan diri). Oleh karena itu, ketupat tidak hanya menjadi makanan khas, tetapi juga simbol kebersamaan dan kesederhanaan.
Membuat ketupat membutuhkan keterampilan dalam menganyam daun kelapa muda menjadi wadah berbentuk persegi. Setelah mencuci bersih beras, orang-orang memasukkannya ke dalam anyaman hingga setengah penuh. Mereka kemudian merebus ketupat dalam air mendidih selama 4-5 jam agar hasilnya kenyal dan padat.
Orang-orang sering menyajikan Tradisi ketupat dengan berbagai hidangan pendamping yang menggugah selera. Mereka biasanya menyantap ketupat bersama beberapa makanan khas, antara lain:
Selain itu, masyarakat di beberapa daerah di Indonesia menciptakan variasi khas ketupat, seperti ketupat kandangan dari Kalimantan Selatan yang mereka sajikan dengan kuah santan ikan haruan, atau ketupat sayur dari Betawi yang mereka lengkapi dengan kuah santan gurih dan kerupuk.
Selain Idul Fitri, masyarakat juga sering menyajikan ketupat dalam berbagai acara adat dan budaya. Misalnya, dalam tradisi Sedekah Laut di Jawa, ketupat menjadi bagian dari sesajen sebagai simbol keberkahan. Begitu juga dalam tradisi pernikahan, tuan rumah menyajikan ketupat kepada tamu sebagai doa baik bagi pengantin baru
ketupat bukan hanya makanan, tetapi juga menyimpan makna filosofis yang mendalam dalam budaya Indonesia. Dari proses pembuatannya yang unik hingga simbolisme yang terkandung di dalamnya, ketupat tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Tak heran jika masyarakat selalu menghadirkan hidangan ini dalam momen-momen spesial, karena melambangkan kebersamaan, kesucian, dan tradisi yang terus mereka lestarikan
Tdak seimua orang dapat menikmati udara, cuaca, atau suhu dingin. Selain menggigil karena kedinginan, beberapa…
Tiket dinamis Piala Dunia 2026 mirip dengan mekanisme tiket pesawat atau hotel Tahap distribusi tiket…
Buah belimbing, atau dikenal juga dengan nama star fruit karena bentuknya menyerupai bintang ketika dipotong…
Polri Tetapkan 1 Tersangka Baru : Kasus Tambang Ilegal Batu Bara Rp 5,7 T di…
Kami berkomitmen menghadirkan hunian dan proyek properti di lokasi strategis dengan standar kualitas tinggi, dirancang…